Teror Mencekam di ‘Hotel Mumbai’

Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar nama India? Bollywood, Hindu, Taj Mahal, salah satu negara dengan penduduk terbanyak, New Delhi, koloni Inggris, dan lainnya. Bagaimana kalau Mumbai? Banyak orang tahu kalau Mumbai adalah kota penopang finansial di India, tapi ada satu kisah mencekam yang terjadi di Mumbai, bukan inflasi besar-besaran, tapi terorisme yang mengepung Mumbai menjadi kota yang paling mengerikan dalam beberapa hari.


Kisah tersebut kemudian diangkat menjadi sebuah film yang rilis di Indonesia tanggal 9 April kemarin. Judulnya adalah Hotel Mumbai.

1920-by-1080-1 (1)
Tamu dari Amerika Serikat (David, Pengasuh anaknya, dan Zahra)

Mengadaptasi dari kisah nyata kejadian terorisme di Mumbai, kisah dibuka oleh 10 orang yang merupakan anggota Lashkar-e-Tayyiba yang menaiki perahu kecil menepi ke kota Mumbai. Di sisi lain, ada Arjun (Dev Patel) yang bekerja sebagai pelayan di sebuah hotel mewah bernama Taj Hotel di mana pada hari itu ada beberapa tamu penting yang datang, Zahra (Nazanin Boniadi), suaminya David (Armie Hammer), anak lelakinya, dan pengasuh anaknya dari Amerika Serikat. Ada juga seorang Rusia yang datang bernama Vasili (Jason Isaacs) salah satu tamu penting di hotel itu yang menyewa kamar untuk sex party.

Ketika seisi Taj Hotel sedang sibuk-sibuknya dengan kegiatan yang ada di dalamnya, di luar Taj Hotel sedang terjadi teror yang dilakukan oleh 10 teroris yang berlayar dari Pakistan itu. Mereka menyerang berbagai tempat publik seperti stasiun kereta Chhatrapati Shivaji Terminus, sebuah restoran, rumah sakit, dan Taj Hotel itu sendiri -tempat yang tak diduga oleh tamu serta staf hotel tersebut.

Penyerangan tersebut bukan dilakukan secara tiba-tiba namun sudah direncanakan sejak mereka masih dilatih di Pakistan. Ketika mereka berhasil menyisir tempat-tempat penting di Mumbai, perhentian terakhir mereka adalah mengepung Taj Hotel. Sayangnya, kepolisian Mumbai tidak bisa berbuat banyak karena kemampuan mereka yang tidak dipersiapkan untuk hal-hal seperti terorisme ini. Mereka hanya bisa menunggu pasukan khusus yang didatangkan dari New Delhi.

Lalu, dalam ketidakpastian menunggu tersebut, bagaimana nasib tamu-tamu dan staf hotel yang terkepung oleh serangan terorisme tersebut?


Jika kalian sudah membaca berita atau mengetahui kejadian ini, kalian tentu juga mengetahui akhir dari kisah yang terjadi di 26 november 2008 ini. Kisah ini menurutku bukan sebuah kisah dengan ending yang  berakhir bahagia, hanya sebuah ending yang baik untuk sebuah kejadian yang buruk.

Karakter yang dibangun oleh 10 pemeran pelaku teror tersebut benar-benar membuatku menyadari kenyataan pahit bahwa sebegitu kejamnya teroris dalam membunuh apa yang menurut mereka salah. Tanpa memandang status sosial dan lainnya, dengan entengnya menembaki orang-orang yang menurut mereka tak sejalan dengan mereka. Jika kau bergerak, maka pelatuk senjata akan menyulut peluru ke tubuh kita berkali-kali. Bahkan saat peluru pertama sudah membuat kita mati, si penembak tidak puas dan menghujani peluru lainnya yang membuat kita seolah-olah mati berkali-kali.

Wajah-wajah ketakutan bertebaran sepanjang film ini. pandangan mata semua tamu hotel pada hari itu hanya satu, ketakutan. namun ada satu hal lain yang menyeimbangi rasa takut tersebut, keberanian. Ada beberapa adegan yang menunjukkan keberanian para staf hotel seperti resepsionis yang menelepon satu-persatu tamu untuk tidak membuka pintu kamarnya ataupun kepala koki Oberoi (Anupam Kher) yang menyiapkan satu ruangan untuk para tamu agar aman dan masih memegang teguh kalimat ‘Tamu adalah Dewa’.

Hotel-Mumbai
Pelayan Taj Hotel, Arjun di salah satu scene saat penyerangan hotel

Aku sangat menyukai berbagai footage yang ditampilkan dalam film ini. Perpindahan antar  scene  dari sudut pandang teroris ke orang-orang lain pun membuatku harap-harap cemas akan tindakan teroris selanjutnya di saat keadaan orang-orang calon korban mereka masih dipenuhi muka tenang. Banyak juga footage yang sepertinya diambil langsung dari dokumentasi asli kejadian teror 2008 itu yang menurutku suatu ide brilian.

Tapi dari semua olahan footage dan scene yang menurutku sudah cerdas, ada satu yang menjadi favoritku yang mungkin bisa jadi spoiler adalah beberapa detik scene pepohonan di kala senja sesaat setelah penyerangan selesai diredam. Scene itu berhasil membuatku bersyukur akan hidup meski cuma melihat hal-hal yang kadang kala kita abaikan.

Menonton film ini kurasa bukan seperti menonton film yang diperankan aktor-aktris tapi aku merasa seperti menonton reka ulang kejadian 2008 itu dan bahkan bodo-amat dengan aktor-aktrisnya saking mencekamnya film ini. Aku tidak akan terlalu membahas tentang aliran-aliran yang melatarbelakangi pelaku teror tersebut, tapi kalimat yang menggantung di scene paling akhir dari film ini tentang kabar teroris tersebut sudah cukup membuatku ngeri.

Credit :

https://adelaidefilmfestival.org/2018/09/why-you-need-to-see-opening-night-film-hotel-mumbai/

https://www.thewrap.com/hotel-mumbai-review-dev-patel-jason-isaacs-toronto-international-film-festival/

indra kurniawan

Iklan

2 tanggapan untuk “Teror Mencekam di ‘Hotel Mumbai’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s