Motion Life-Thought

Pemikiran Singkat untuk Ambisi dan Motivasi

Saat ngelihat postingan Maudy Ayunda yang keterima di dua kampus tersohor, Harvard dan Stanford, atau teman yang punya bisnis maju sekali. Ada sesuatu dalam diriku yang menguak, motivasi dan ambisi.

Saat ngadepin sesuatu seperti hidup pas-pasan, melulu ditolak kerja, atau ngebandingin diri dengan orang lain, ada sesuatu yang lain dalam diriku yang muncul, rasanya hidup itu seharusnya jangan dibuat sulit. Motivasi dan ambisi tak perlu besar karena pada ujungnya umur kita gak mampu menopang semua itu selamanya.

Dilema memang.

Pas motivasi dan ambisi datang, rasanya semangat menggebu, apapun sepertinya bisa dilakukan. Tujuan hidupku rasanya dibangun dari objek-objek yang ada di luar diriku saja. Sukses karena pendidikan tinggi dan belajar di institusi ternama, menjadi kaya tujuh turunan, punya pekerjaan yang sudah sangat stabil dengan jabatan dan gaji yang tinggi, atau bangun bisnis yang bisa sukses sampe unicorn.

Tapi masalahnya, diriku ini berbeda dengan orang-orang yang kalau punya motivasi dan ambisi, walau badai menghadang mereka masih bisa stick ke motivasi dan ambisinya itu, aku tidak. Motivasi dan ambisi yang datang, pergi secepat ia tiba walau kadang muncul lagi. Pemikiran tentang kedua hal itu masih tetap membekas di ingatan, tapi sesuatu yang lain mengisi pemikiranku setelahnya. Rasanya motivasi dan ambisi itu tidak perlu menggebu.

Dipikir-pikir, belajar di perguruan tinggi bagus, kerja dengan gaji 2 atau 3 digit, dan mengejar hal-hal lain di luar diri kita ya, pada ujungnya akan hilang juga. Karena, begitu kan kerja dunia yang kita yakini ini?

Bukan artinya aku pesimis dengan hidup ini atau dengan hidupku sendiri. Tapi, penekananku di sini lebih kepada bagaimana aku memandang sebuah tujuan, memandang motivasi dan ambisi. Ada saat di mana aku berpikir aku tidak perlu ‘mengejar’ sesuatu secara berlebihan dan mengharapkan sesuatu yang besar dari itu.

Misalkan, ketika orang lain mati-matian mengejar jabatan direktur atau manajer, aku kadang mikir buat apa sih ngebet pengin jadi direktur atau manajer, toh itu juga sementara. Bukan berarti aku gak pengin jadi direktur atau manajer, tapi ketika aku bekerja dengan baik, antusias, dan memberikan manfaat, aku sudah merasa senang. Menjadi direktur atau manajer bisa jadi bonus.

Mungkin, jika aku jadi orang yang berbeda, pemikiranku gak bakal timbul seperti ini. Caraku memandang kehidupan dan dunia jadi berbeda. Tapi beginilah diriku memandang itu semua kini. Aku tidak menyalahkan orang-orang yang punya motivasi dan ambisi yang tinggi, itu bisa jadi bagus menurut mereka. Aku hanya memiliki pandangan berbeda akan hal itu.

Entahlah, aku percaya hidup ini sementara. Bahkan kalau ada kehidupan setelahnya pun, kemungkinan kehidupan itu akan diulang dari awal lagi. Jadi, aku memutuskan untuk berjalan di tengah. Menjalani hidup sesuai kapasitasnya, menikmatinya, tapi tetap menyesuaikan diri agar bisa bertahan sebagai manusia berakal dan tetap waras.

indra kurniawan

Iklan

5 tanggapan untuk “Pemikiran Singkat untuk Ambisi dan Motivasi

  1. Memang rumput tetangga akan selalu lebih hijau ya Kak! Sepertinya itu alamiah, terkadang kalo lagi silau liat rumput orang, saya langsung buru-buru switch, fokus sama kelebihan diri sendiri, meski lebihnya juga gak seberapa qiqiqi.. btw, salam kenal ya..

    Suka

  2. Menaruh ekspektasi berlebih emang gak bagus ya ndra, kadag ritme “jalanin aja totalitas” uda cukup buat bikin hati tenang tanpa ambisi yang kentara

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s