Persepsi : Yang Bisa Terkendali dan Yang Tidak

Tidak dapat dipungkiri jika orang lain bicara pada kita dan kita menganggap omongan tersebut memiliki konteks negatif terhadap kita, kita akan merasa terganggu, kesal, atau marah. Biasanya perkataan yang terlontar tersebut bisa berwujud perkataan yang memancing kita untuk bereaksi negatif, seperti “Kamu gendutan, ya?” atau “Bukannya kamu bisa segalanya.” atau “Oh, masa sih?” atau mungkin kata-kata lain yang kita pikir menyinggung kita.

Berkaca dari pengalaman membaca Filosofi Teras, terdapat kalimat menarik yang kira-kira berbunyi ‘Jika orang lain berniat berkata menyakiti kita dan kita menerima perkataan tersebut sebagai hinaan, maka mereka sukses menyakiti kita’. Kata-kata hinaan/menyakiti/menyinggung dan lainnya itu menurut Filosofi Teras (Filsafat Stoisisme) sifatnya adalah netral. Artinya, perkataan tersebut tidak memiliki emosi apapun selama kita tidak memberikan penilaian sendiri.

Aku sering sekali terpancing emosi dari perkataan orang lain. Entah memang disengaja atau tidak, aku biasanya menanggapinya dengan reaktif. Dari situ, terkadang aku membalas dengan perkataan yang lebih pedas bahkan menurutku sendiri seperti menghina. Kontrol emosiku hilang.

Padahal, kembali kepada Filosofi Teras, ada yang namanya Dikotomi Kendali, apa yang ada di bawah kendali kita dan yang tidak di bawah kendali kita. Perkataan orang lain termasuk ke bagian yang kedua. Penekanan lagi bahwa kata-kata sifatnya netral. Kata-kata orang lain kepada kita? Tidak berada di bawah kendali kita. Dan saat kita ingin  meluapkan emosi negatif terhadap kata-kata yang menurut kita menyinggung, kita mesti kembali ke penekanan awal, kata-kata sifatnya netral.

Di sinilah persepsi bermain (terutama persepsi dalam konteks komunikasi). Bagaimana cara kita menanggapi sesuatu merupakan sebuah persepsi belaka. Kita berpikir kata-kata itu menyakitkan karena kita mempersepsikan demikian (membuat penilain pribadi). Orang lain berkata demikian karena mereka memiliki persepsi mereka sendiri yang mungkin tidak sama dengan kita.

Sayangnya, sebagai manusia, kita memiliki perasaan. Persepsi pada akhirnya hal yang terkadang wajar dibuat karena perasaan kita bukanlah seperti robot yang konstan saja, perasaan kita bergerak bebas. Tapi, kita memiliki pikiran. Pikiran inilah yang bertugas mengontrol perasaan yang bergerak bebas tadi sampai perasaan bisa memiliki jalan yang lurus.

Jadi, berbicara tentang persepsi, semua berujung pada pengendalian diri. Perasaan dibimbing dengan pikiran. Emosi negatif yang timbul dari sebuah persepsi pribadi harus dituntun dengan pemikiran bahwa kata-kata itu bersifat netral dan yang timbul dari orang lain adalah sesuatu di luar kendali kita.


Terinspirasi dari tulisan putrinuzulil.com dan daligrafi.wordpress.com

indra kurniawan

Iklan

3 tanggapan untuk “Persepsi : Yang Bisa Terkendali dan Yang Tidak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s