Motion Movies

Ambisi, Obsesi, dan Realita Pendidikan di ‘Sky Castle’

Terakhir menonton drama korea sampai tamat adalah Descendant of the Sun (2016) atau lebih banyak dikenal dengan singkatannya DOTS. Entah kenapa at that moment rasanya drama tersebut bagus bagiku.

Kisah cinta yang dibangun antara tentara Korea Selatan dengan dokter dan dokter tentara sungguh membuat mungkin semua yang menonton ingin merasakan hal yang sama. Apalagi pemainnya pun terkenal, sebut saja Song Joong-ki dan Song Hye-kyo yang akhirnya berakhir bahagia di dunia nyata.

Namun, jika ditonton kembali, ada rasa cheesy bagiku melihat roman yang ditampilkan. Mungkin waktu merubah pemikiranku tentang sesuatu karena hal-hal yang terjadi di antaranya haha.

sky_castle
Poster Sky Castle

Di 2019, atau lebih tepatnya di penghujung 2018, ada satu drama korea lagi yang tenar namanya seperti yang pernah kusinggung dalam postingan ini. Judulnya Sky Castle. Drama yang bercerita tentang ambisi, obsesi, dan realita pendidikan di Korea Selatan. Tidak disebut memang kisah itu sebagai kisah nyata. Namun, pastinya isu yang diangkat mungkin berdasarkan apa yang ada di kehidupan sehari-hari di sana.

Dengan 20 nomor episode, Sky Castle ini diperankan oleh aktor-aktris yang katanya kepopulerannya belum cukup tinggi. Ada sebuah kompleks perumahan bernama Sky Castle yang namanya dikenal sebagai kompleks high-class untuk membangun keluarga dengan masa depan cerah. Orang-orang di dalamnya sangat ambisius dan obsesif dalam membangun pendidikan terutama menjadi dokter.

Suatu hari, anak dari keluarga Lee Myung-joo dan Park Soo-chang yaitu Park Young-jae (Song Geon-hee) diterima sebagai mahasiswa kedokteran di Seoul. Para keluarga di Sky Castle yang dekat dengan mereka merayakan kelulusan tersebut sebagai tradisi keluarga Sky Castle. Berkumpullah semua keluarga mulai dari keluarga Han Seo-jin (Yum Jung-ah) yang mengadakan perayaan, keluarga No Seung-hye (Yoon Se-ah), dan keluarga Jin Jin-hee (Oh Na-ra).

Di perayaan tersebut, semua berbahagia, namun ada satu tujuan, meminta resep rahasia Young-jae diterima di kedokteran untuk diterapkan ke anak-anak keluarga masing-masing. Sayangnya, Myung-joo bersikeras tidak mau membocorkan cara Young-jae bisa diterima. Harapan Seo-jin pun pupus, juga keluarga lain.

Berhari-hari setelahnya pun mereka masih bersikeras membujuk Myung-joo untuk memberitahu mereka namun nihil.

Tapi, pada akhirnya Myung-joo memberitahu cara meluluskan Young-jae kepada Seo-jin. Ternyata Young-jae memiliki koordinator ujian masuk universitas yaitu Kim Joo-young (Kim Seo-hyung). Senangnya hati Seo-jin mengetahui itu ditambah untuk bisa mendapat jasanya, dia diberikan tiket VIP oleh Myung-joo untuk menghadiri rapat sebuah bank.

Singkat cerita, Seo-jin dan Seung-hye (yang mendapat tiket dari suaminya) diwawancara oleh Kim Joo-young. Seo-jin lah yang terpilih dan Kim Joo-young menjadi instruktur pribadi bagi anak Seo-jin, Kang Ye-seo (Kim Hye-yoon).

Di suatu pagi terdengar kabar kalau Myung-joo tewas bunuh diri. Suaminya pun pindah dari Sky Castle dan keluarga baru datang, Lee Soo-im (Lee Tae-ran). Usut punya usut, ada keanehan dalam kematian Myung-joo. Seo-jin menemukan diary Young-jae tentang betapa frustasinya dia dengan keluarganya sampai ingin memutus hubungan. Juga mengetahui sebuah hal yang cukup mengerikan dari Kim Joo-young

sky castle
Seo-jin dan Kim Joo-young

Lee Soo-im pun yang seorang penulis merasa penasaran dengan peristiwa tersebut apalagi melihat keluarga-keluarga di sana yang sangat ambisius dan obsesif mengenai pendidikan sampai membuat anak-anak mereka cukup menderita.

Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Myung-joo bunuh diri? Siapa sebenarnya Kim Joo-young? Lalu bagaimana masalah ambisi dan obsesi pendidikan ini begitu parahnya hingga menyebabkan keluarga-keluarga di Sky Castle rela melakukan apapun?


Gila. Aku gak tahu kalau menjadi obsesif bisa separah yang terjadi dalam drama ini. Pendidikan memang sesuatu yang cukup menyiksa batin jika tidak mendapatkan yang terbaik terutama bagi sebagian orang tua. Walaupun mungkin cara obsesi dalam Sky Castle ini adalah kasus yang langka, tapi itu bisa membuka mata kalau tak selamanya pendidikan yang baik memang baik untuk anaknya dan kesehatan mentalnya.

Sepanjang cerita, kita digiring untuk mengikuti lika-liku lingkungan Sky Castle yang sangat mementingkan pendidikan tinggi terutama kedokteran yang sudah menjadi tradisi serta pencapaian yang harus diraih di sana. Siap-siap malu jika anak kita tidak bisa masuk kedokteran. Mau tidak mau, orang tua mereka mencari seluruh cara agar anak mereka bisa mencapai tujuan itu meskipun anak-anak tersebut tidak menginginkan itu.

Di sinilah masalahnya. Anak-anak tersebut tidak memiliki kekuatan untuk membantah orang tua apalagi memberikan mereka mimpi masa depan mereka. Semua sudah disusun oleh orang tua mereka dan tujuan mereka pun tidak bisa berbelok-belok, lurus saja menuju kedokteran. Alhasil, anak-anak tersebut bisa jadi stres, malas-malasan, bahkan sampai membenci orang tua mereka yang sangat obsesif.

Setiap episode drama ini pun dibangun dengan ketegangan yang dibangun perlahan hingga mencapai puncak di penghujung episode. Tentunya itu membuat kita sebagai penonton menjadi penasaran karena twist-twist dibuka secara perlahan dan ditaruh di bagian-bagian yang tepat.

Soundtrack dari drama ini pun benar-benar cocok. Musiknya yang seakan menuduh, liriknya yang berbicara realita yang pahit, dicampur dengan cerita yang ada membuat kita (atau lebih tepatnya aku) merenung berkali-kali.

tenor (3)

Banyak sekali memang yang bisa diambil dalam drama ini. Di luar dari kemustahilan yang ada, kita jadi mengetahui kerasnya realita pendidikan di Korea Selatan atau bahkan di beberapa negara maju lainnya. Apalagi ditumpukkan lagi oleh obsesi dan ambisi dari orang tua membuat anaknya merasa terkekang dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Drama ini cocok ditonton untuk menyadarkan kita kalau memiliki ambisi dan obsesi juga harus memiliki ekspektasi dan batas yang wajar. Bukannya sesuatu yang berlebihan itu tidak baik? Jika begitu, takarlah kadar ambisi dan obsesi dengan pas agar tidak merugikan orang lain, orang terdekat, dan juga diri sendiri.

indra kurniawan

Iklan

5 tanggapan untuk “Ambisi, Obsesi, dan Realita Pendidikan di ‘Sky Castle’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s